Fenomena Pemimpin Menghilang, Krisis Kepemimpinan yang Kian Mengkhawatirkan
"Menjadi pemimpin itu mudah saat sorak sorai memenuhi ruangan. Namun ketika badai datang dan kursi mulai terasa panas, di situlah sejarah mulai mencatat siapa yang benar-benar layak disebut pemimpin."
Ada satu ironi yang terus berulang dalam kehidupan organisasi, baik di tingkat kampus, daerah, hingga nasional. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan, tetapi tidak semua siap memikul tanggung jawab yang melekat di baliknya. Jabatan akhirnya dipandang sebagai prestise, bukan amanah. Gelar dianggap lebih penting daripada pengabdian. Akibatnya, ketika tantangan datang bertubi-tubi, sebagian memilih menghilang, diam, atau bahkan meninggalkan medan perjuangan yang sebelumnya begitu gigih mereka rebut.
Kalimat, "Jika tak mampu jangan dipaksa. Jika sudah terlanjur jangan mundur, karena mundur satu langkah merupakan suatu bentuk pengkhianatan," bukan sekadar rangkaian kata-kata motivasi. Kalimat ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang pernah menyatakan kesediaannya memimpin sebuah organisasi, komunitas, maupun lembaga. Sebab sejak seseorang menerima mandat, sejak saat itu pula ia telah mengikat janji moral kepada setiap orang yang mempercayainya.
Kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan ketika kamera menyala. Kepemimpinan adalah keberanian tetap berdiri ketika lampu mulai padam dan tidak ada lagi tepuk tangan yang terdengar. Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa banyak baliho yang memasang wajahnya atau seberapa sering namanya disebut dalam forum. Ia justru diukur ketika keadaan mulai sulit, ketika kritik bermunculan, ketika konflik internal menguji kesabaran, dan ketika keputusan-keputusan berat harus diambil dengan segala konsekuensinya.
Sayangnya, fenomena pemimpin yang "menghilang dari permukaan" bukan lagi cerita langka. Di berbagai organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, bahkan lembaga pemerintahan, kita sering menyaksikan sosok yang begitu aktif sebelum terpilih, tetapi perlahan lenyap setelah jabatan berhasil diraih. Agenda organisasi terbengkalai, komunikasi terputus, anggota kehilangan arah, sementara sang pemimpin memilih diam tanpa penjelasan.
Fenomena seperti ini tidak hanya melahirkan kekosongan kepemimpinan. Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar absennya seorang ketua. Organisasi kehilangan ritme, kader kehilangan semangat, dan kepercayaan publik perlahan terkikis. Sebab dalam sebuah organisasi, pemimpin bukan sekadar simbol administratif. Ia adalah sumber energi, arah, sekaligus wajah yang mencerminkan kondisi internal organisasinya.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa mundur adalah hak pribadi. Secara administratif mungkin benar. Namun dalam perspektif moral, terlebih ketika seseorang telah memperoleh mandat melalui proses demokratis dan telah mengucapkan sumpah atau komitmen kepada anggota, keputusan meninggalkan tanggung jawab tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah yang pernah diterima.
Lebih menyedihkan lagi apabila pengunduran diri itu bukan disebabkan oleh keadaan luar biasa seperti sakit berat atau kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan, melainkan karena hilangnya semangat, rasa bosan, atau ketidaksiapan menghadapi tekanan. Jabatan memang memberikan kehormatan, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan ujian yang tidak ringan. Mereka yang hanya mengejar kehormatan biasanya akan menjadi orang pertama yang menyerah ketika ujian datang.
Sejarah selalu mencatat bahwa organisasi besar tidak pernah dibangun oleh pemimpin yang gemar mencari alasan. Organisasi besar lahir dari mereka yang bersedia menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Mereka memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap amanah harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada anggota, tetapi juga kepada nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Dalam kehidupan mahasiswa, kepemimpinan memiliki arti yang jauh lebih mendalam. Kampus bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan laboratorium pembentukan karakter. Jabatan di organisasi mahasiswa sejatinya adalah ruang belajar menghadapi konflik, mengelola perbedaan, membangun komunikasi, dan memimpin manusia dengan segala kompleksitasnya. Ketika seorang mahasiswa memilih menghilang dari tanggung jawab organisasinya, sesungguhnya ia sedang kehilangan kesempatan paling berharga untuk menempa dirinya menjadi pemimpin masa depan.
Tidak ada pemimpin yang lahir dalam kondisi sempurna. Semua pernah melakukan kesalahan. Semua pernah mengalami kegagalan. Bahkan tokoh-tokoh besar dunia pun tidak pernah memimpin tanpa kritik. Yang membedakan mereka hanyalah satu hal: mereka tetap hadir. Mereka tidak meninggalkan kapal ketika ombak mulai meninggi.
Kehadiran seorang pemimpin sering kali lebih penting daripada kesempurnaan program kerja. Anggota organisasi masih dapat memaklumi keterbatasan anggaran, keterlambatan kegiatan, atau target yang belum tercapai. Namun mereka akan sulit menerima ketika pemimpinnya sendiri memilih menghilang tanpa kabar. Sebab yang dibutuhkan organisasi bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kepastian bahwa ada seseorang yang tetap berdiri di depan ketika semua orang mulai kehilangan harapan.
Budaya menghilang ketika menghadapi masalah perlahan menjadi penyakit yang menggerogoti banyak organisasi. Rapat ditinggalkan tanpa alasan. Pesan tidak dibalas. Program kerja terbengkalai. Tanggung jawab dialihkan kepada orang lain. Semua ini memperlihatkan betapa jabatan terkadang hanya dipandang sebagai identitas, bukan sebagai amanah yang harus diselesaikan hingga akhir masa bakti.
Padahal kepemimpinan sejati tidak pernah berhenti hanya karena keadaan tidak lagi sesuai harapan. Justru pada saat-saat sulit itulah kualitas seorang pemimpin sedang diuji. Ketika organisasi mengalami konflik internal, masyarakat mulai mempertanyakan kinerja, atau anggota mulai kehilangan kepercayaan, seorang pemimpin dituntut hadir dengan solusi, bukan menghilang bersama masalah.
Refleksi ini juga menjadi pengingat bagi siapa pun yang hari ini sedang bersiap mencalonkan diri sebagai pemimpin. Sebelum menerima mandat, tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri: apakah benar siap kehilangan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan popularitas demi kepentingan organisasi? Jika jawabannya belum yakin, mungkin keputusan terbaik adalah memberi kesempatan kepada orang yang lebih siap. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin, tetapi setiap pemimpin harus siap menanggung konsekuensi dari pilihannya.
Karena pada akhirnya, organisasi tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara di atas podium. Organisasi membutuhkan pemimpin yang tetap hadir ketika ruangan mulai sepi. Pemimpin yang tidak hanya muncul saat pelantikan atau acara seremonial, tetapi juga saat anggota membutuhkan arahan dan kepastian.
Jabatan pada dasarnya memiliki akhir. Masa kepengurusan akan selesai. Nama akan berganti. Struktur organisasi akan diperbarui. Namun jejak kepemimpinan akan tetap dikenang. Ada pemimpin yang diingat karena keberhasilannya membangun organisasi. Ada pula yang dikenang karena memilih menghilang ketika amanah masih berada di pundaknya.
Maka, sebelum memutuskan untuk maju menjadi seorang pemimpin, pastikan bahwa niat tersebut lahir dari kesiapan mengabdi, bukan sekadar keinginan untuk dikenal. Sebab organisasi tidak pernah rugi kehilangan satu jabatan kosong, tetapi akan sangat rugi ketika dipimpin oleh seseorang yang hadir hanya pada awal perjalanan lalu menghilang ketika tanggung jawab mulai terasa berat.
Kalimat itu kembali menemukan maknanya: jika tak mampu jangan dipaksa. Namun jika sudah menerima amanah, jangan mundur hanya karena jalan terasa terjal. Sebab setiap langkah mundur tanpa tanggung jawab bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan. Dalam dunia kepemimpinan, keberanian bukan hanya tentang maju merebut amanah, tetapi juga tentang bertahan hingga amanah itu selesai ditunaikan dengan penuh tanggung jawab"Menjadi pemimpin itu mudah saat sorak sorai memenuhi ruangan. Namun ketika badai datang dan kursi mulai terasa panas, di situlah sejarah mulai mencatat siapa yang benar-benar layak disebut pemimpin."
Ada satu ironi yang terus berulang dalam kehidupan organisasi, baik di tingkat kampus, daerah, hingga nasional. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan, tetapi tidak semua siap memikul tanggung jawab yang melekat di baliknya. Jabatan akhirnya dipandang sebagai prestise, bukan amanah. Gelar dianggap lebih penting daripada pengabdian. Akibatnya, ketika tantangan datang bertubi-tubi, sebagian memilih menghilang, diam, atau bahkan meninggalkan medan perjuangan yang sebelumnya begitu gigih mereka rebut.
Kalimat, "Jika tak mampu jangan dipaksa. Jika sudah terlanjur jangan mundur, karena mundur satu langkah merupakan suatu bentuk pengkhianatan," bukan sekadar rangkaian kata-kata motivasi. Kalimat ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang pernah menyatakan kesediaannya memimpin sebuah organisasi, komunitas, maupun lembaga. Sebab sejak seseorang menerima mandat, sejak saat itu pula ia telah mengikat janji moral kepada setiap orang yang mempercayainya.
Kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan ketika kamera menyala. Kepemimpinan adalah keberanian tetap berdiri ketika lampu mulai padam dan tidak ada lagi tepuk tangan yang terdengar. Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa banyak baliho yang memasang wajahnya atau seberapa sering namanya disebut dalam forum. Ia justru diukur ketika keadaan mulai sulit, ketika kritik bermunculan, ketika konflik internal menguji kesabaran, dan ketika keputusan-keputusan berat harus diambil dengan segala konsekuensinya.
Sayangnya, fenomena pemimpin yang "menghilang dari permukaan" bukan lagi cerita langka. Di berbagai organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, bahkan lembaga pemerintahan, kita sering menyaksikan sosok yang begitu aktif sebelum terpilih, tetapi perlahan lenyap setelah jabatan berhasil diraih. Agenda organisasi terbengkalai, komunikasi terputus, anggota kehilangan arah, sementara sang pemimpin memilih diam tanpa penjelasan.
Fenomena seperti ini tidak hanya melahirkan kekosongan kepemimpinan. Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar absennya seorang ketua. Organisasi kehilangan ritme, kader kehilangan semangat, dan kepercayaan publik perlahan terkikis. Sebab dalam sebuah organisasi, pemimpin bukan sekadar simbol administratif. Ia adalah sumber energi, arah, sekaligus wajah yang mencerminkan kondisi internal organisasinya.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa mundur adalah hak pribadi. Secara administratif mungkin benar. Namun dalam perspektif moral, terlebih ketika seseorang telah memperoleh mandat melalui proses demokratis dan telah mengucapkan sumpah atau komitmen kepada anggota, keputusan meninggalkan tanggung jawab tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah yang pernah diterima.
Lebih menyedihkan lagi apabila pengunduran diri itu bukan disebabkan oleh keadaan luar biasa seperti sakit berat atau kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan, melainkan karena hilangnya semangat, rasa bosan, atau ketidaksiapan menghadapi tekanan. Jabatan memang memberikan kehormatan, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan ujian yang tidak ringan. Mereka yang hanya mengejar kehormatan biasanya akan menjadi orang pertama yang menyerah ketika ujian datang.
Sejarah selalu mencatat bahwa organisasi besar tidak pernah dibangun oleh pemimpin yang gemar mencari alasan. Organisasi besar lahir dari mereka yang bersedia menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Mereka memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap amanah harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada anggota, tetapi juga kepada nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Dalam kehidupan mahasiswa, kepemimpinan memiliki arti yang jauh lebih mendalam. Kampus bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan laboratorium pembentukan karakter. Jabatan di organisasi mahasiswa sejatinya adalah ruang belajar menghadapi konflik, mengelola perbedaan, membangun komunikasi, dan memimpin manusia dengan segala kompleksitasnya. Ketika seorang mahasiswa memilih menghilang dari tanggung jawab organisasinya, sesungguhnya ia sedang kehilangan kesempatan paling berharga untuk menempa dirinya menjadi pemimpin masa depan.
Tidak ada pemimpin yang lahir dalam kondisi sempurna. Semua pernah melakukan kesalahan. Semua pernah mengalami kegagalan. Bahkan tokoh-tokoh besar dunia pun tidak pernah memimpin tanpa kritik. Yang membedakan mereka hanyalah satu hal: mereka tetap hadir. Mereka tidak meninggalkan kapal ketika ombak mulai meninggi.
Kehadiran seorang pemimpin sering kali lebih penting daripada kesempurnaan program kerja. Anggota organisasi masih dapat memaklumi keterbatasan anggaran, keterlambatan kegiatan, atau target yang belum tercapai. Namun mereka akan sulit menerima ketika pemimpinnya sendiri memilih menghilang tanpa kabar. Sebab yang dibutuhkan organisasi bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kepastian bahwa ada seseorang yang tetap berdiri di depan ketika semua orang mulai kehilangan harapan.
Budaya menghilang ketika menghadapi masalah perlahan menjadi penyakit yang menggerogoti banyak organisasi. Rapat ditinggalkan tanpa alasan. Pesan tidak dibalas. Program kerja terbengkalai. Tanggung jawab dialihkan kepada orang lain. Semua ini memperlihatkan betapa jabatan terkadang hanya dipandang sebagai identitas, bukan sebagai amanah yang harus diselesaikan hingga akhir masa bakti.
Padahal kepemimpinan sejati tidak pernah berhenti hanya karena keadaan tidak lagi sesuai harapan. Justru pada saat-saat sulit itulah kualitas seorang pemimpin sedang diuji. Ketika organisasi mengalami konflik internal, masyarakat mulai mempertanyakan kinerja, atau anggota mulai kehilangan kepercayaan, seorang pemimpin dituntut hadir dengan solusi, bukan menghilang bersama masalah.
Refleksi ini juga menjadi pengingat bagi siapa pun yang hari ini sedang bersiap mencalonkan diri sebagai pemimpin. Sebelum menerima mandat, tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri: apakah benar siap kehilangan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan popularitas demi kepentingan organisasi? Jika jawabannya belum yakin, mungkin keputusan terbaik adalah memberi kesempatan kepada orang yang lebih siap. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin, tetapi setiap pemimpin harus siap menanggung konsekuensi dari pilihannya.
Karena pada akhirnya, organisasi tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara di atas podium. Organisasi membutuhkan pemimpin yang tetap hadir ketika ruangan mulai sepi. Pemimpin yang tidak hanya muncul saat pelantikan atau acara seremonial, tetapi juga saat anggota membutuhkan arahan dan kepastian.
Jabatan pada dasarnya memiliki akhir. Masa kepengurusan akan selesai. Nama akan berganti. Struktur organisasi akan diperbarui. Namun jejak kepemimpinan akan tetap dikenang. Ada pemimpin yang diingat karena keberhasilannya membangun organisasi. Ada pula yang dikenang karena memilih menghilang ketika amanah masih berada di pundaknya.
Maka, sebelum memutuskan untuk maju menjadi seorang pemimpin, pastikan bahwa niat tersebut lahir dari kesiapan mengabdi, bukan sekadar keinginan untuk dikenal. Sebab organisasi tidak pernah rugi kehilangan satu jabatan kosong, tetapi akan sangat rugi ketika dipimpin oleh seseorang yang hadir hanya pada awal perjalanan lalu menghilang ketika tanggung jawab mulai terasa berat.
Kalimat itu kembali menemukan maknanya: jika tak mampu jangan dipaksa. Namun jika sudah menerima amanah, jangan mundur hanya karena jalan terasa terjal. Sebab setiap langkah mundur tanpa tanggung jawab bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan. Dalam dunia kepemimpinan, keberanian bukan hanya tentang maju merebut amanah, tetapi juga tentang bertahan hingga amanah itu selesai ditunaikan dengan penuh tanggung jawab"Menjadi pemimpin itu mudah saat sorak sorai memenuhi ruangan. Namun ketika badai datang dan kursi mulai terasa panas, di situlah sejarah mulai mencatat siapa yang benar-benar layak disebut pemimpin."
Ada satu ironi yang terus berulang dalam kehidupan organisasi, baik di tingkat kampus, daerah, hingga nasional. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan, tetapi tidak semua siap memikul tanggung jawab yang melekat di baliknya. Jabatan akhirnya dipandang sebagai prestise, bukan amanah. Gelar dianggap lebih penting daripada pengabdian. Akibatnya, ketika tantangan datang bertubi-tubi, sebagian memilih menghilang, diam, atau bahkan meninggalkan medan perjuangan yang sebelumnya begitu gigih mereka rebut.
Kalimat, "Jika tak mampu jangan dipaksa. Jika sudah terlanjur jangan mundur, karena mundur satu langkah merupakan suatu bentuk pengkhianatan," bukan sekadar rangkaian kata-kata motivasi. Kalimat ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang pernah menyatakan kesediaannya memimpin sebuah organisasi, komunitas, maupun lembaga. Sebab sejak seseorang menerima mandat, sejak saat itu pula ia telah mengikat janji moral kepada setiap orang yang mempercayainya.
Kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan ketika kamera menyala. Kepemimpinan adalah keberanian tetap berdiri ketika lampu mulai padam dan tidak ada lagi tepuk tangan yang terdengar. Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa banyak baliho yang memasang wajahnya atau seberapa sering namanya disebut dalam forum. Ia justru diukur ketika keadaan mulai sulit, ketika kritik bermunculan, ketika konflik internal menguji kesabaran, dan ketika keputusan-keputusan berat harus diambil dengan segala konsekuensinya.
Sayangnya, fenomena pemimpin yang "menghilang dari permukaan" bukan lagi cerita langka. Di berbagai organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, bahkan lembaga pemerintahan, kita sering menyaksikan sosok yang begitu aktif sebelum terpilih, tetapi perlahan lenyap setelah jabatan berhasil diraih. Agenda organisasi terbengkalai, komunikasi terputus, anggota kehilangan arah, sementara sang pemimpin memilih diam tanpa penjelasan.
Fenomena seperti ini tidak hanya melahirkan kekosongan kepemimpinan. Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar absennya seorang ketua. Organisasi kehilangan ritme, kader kehilangan semangat, dan kepercayaan publik perlahan terkikis. Sebab dalam sebuah organisasi, pemimpin bukan sekadar simbol administratif. Ia adalah sumber energi, arah, sekaligus wajah yang mencerminkan kondisi internal organisasinya.
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa mundur adalah hak pribadi. Secara administratif mungkin benar. Namun dalam perspektif moral, terlebih ketika seseorang telah memperoleh mandat melalui proses demokratis dan telah mengucapkan sumpah atau komitmen kepada anggota, keputusan meninggalkan tanggung jawab tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah yang pernah diterima.
Lebih menyedihkan lagi apabila pengunduran diri itu bukan disebabkan oleh keadaan luar biasa seperti sakit berat atau kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan, melainkan karena hilangnya semangat, rasa bosan, atau ketidaksiapan menghadapi tekanan. Jabatan memang memberikan kehormatan, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan ujian yang tidak ringan. Mereka yang hanya mengejar kehormatan biasanya akan menjadi orang pertama yang menyerah ketika ujian datang.
Sejarah selalu mencatat bahwa organisasi besar tidak pernah dibangun oleh pemimpin yang gemar mencari alasan. Organisasi besar lahir dari mereka yang bersedia menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Mereka memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap amanah harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada anggota, tetapi juga kepada nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Dalam kehidupan mahasiswa, kepemimpinan memiliki arti yang jauh lebih mendalam. Kampus bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan laboratorium pembentukan karakter. Jabatan di organisasi mahasiswa sejatinya adalah ruang belajar menghadapi konflik, mengelola perbedaan, membangun komunikasi, dan memimpin manusia dengan segala kompleksitasnya. Ketika seorang mahasiswa memilih menghilang dari tanggung jawab organisasinya, sesungguhnya ia sedang kehilangan kesempatan paling berharga untuk menempa dirinya menjadi pemimpin masa depan.
Tidak ada pemimpin yang lahir dalam kondisi sempurna. Semua pernah melakukan kesalahan. Semua pernah mengalami kegagalan. Bahkan tokoh-tokoh besar dunia pun tidak pernah memimpin tanpa kritik. Yang membedakan mereka hanyalah satu hal: mereka tetap hadir. Mereka tidak meninggalkan kapal ketika ombak mulai meninggi.
Kehadiran seorang pemimpin sering kali lebih penting daripada kesempurnaan program kerja. Anggota organisasi masih dapat memaklumi keterbatasan anggaran, keterlambatan kegiatan, atau target yang belum tercapai. Namun mereka akan sulit menerima ketika pemimpinnya sendiri memilih menghilang tanpa kabar. Sebab yang dibutuhkan organisasi bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kepastian bahwa ada seseorang yang tetap berdiri di depan ketika semua orang mulai kehilangan harapan.
Budaya menghilang ketika menghadapi masalah perlahan menjadi penyakit yang menggerogoti banyak organisasi. Rapat ditinggalkan tanpa alasan. Pesan tidak dibalas. Program kerja terbengkalai. Tanggung jawab dialihkan kepada orang lain. Semua ini memperlihatkan betapa jabatan terkadang hanya dipandang sebagai identitas, bukan sebagai amanah yang harus diselesaikan hingga akhir masa bakti.
Padahal kepemimpinan sejati tidak pernah berhenti hanya karena keadaan tidak lagi sesuai harapan. Justru pada saat-saat sulit itulah kualitas seorang pemimpin sedang diuji. Ketika organisasi mengalami konflik internal, masyarakat mulai mempertanyakan kinerja, atau anggota mulai kehilangan kepercayaan, seorang pemimpin dituntut hadir dengan solusi, bukan menghilang bersama masalah.
Refleksi ini juga menjadi pengingat bagi siapa pun yang hari ini sedang bersiap mencalonkan diri sebagai pemimpin. Sebelum menerima mandat, tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri: apakah benar siap kehilangan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan popularitas demi kepentingan organisasi? Jika jawabannya belum yakin, mungkin keputusan terbaik adalah memberi kesempatan kepada orang yang lebih siap. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin, tetapi setiap pemimpin harus siap menanggung konsekuensi dari pilihannya.
Karena pada akhirnya, organisasi tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara di atas podium. Organisasi membutuhkan pemimpin yang tetap hadir ketika ruangan mulai sepi. Pemimpin yang tidak hanya muncul saat pelantikan atau acara seremonial, tetapi juga saat anggota membutuhkan arahan dan kepastian.
Jabatan pada dasarnya memiliki akhir. Masa kepengurusan akan selesai. Nama akan berganti. Struktur organisasi akan diperbarui. Namun jejak kepemimpinan akan tetap dikenang. Ada pemimpin yang diingat karena keberhasilannya membangun organisasi. Ada pula yang dikenang karena memilih menghilang ketika amanah masih berada di pundaknya.
Maka, sebelum memutuskan untuk maju menjadi seorang pemimpin, pastikan bahwa niat tersebut lahir dari kesiapan mengabdi, bukan sekadar keinginan untuk dikenal. Sebab organisasi tidak pernah rugi kehilangan satu jabatan kosong, tetapi akan sangat rugi ketika dipimpin oleh seseorang yang hadir hanya pada awal perjalanan lalu menghilang ketika tanggung jawab mulai terasa berat.
Kalimat itu kembali menemukan maknanya: jika tak mampu jangan dipaksa. Namun jika sudah menerima amanah, jangan mundur hanya karena jalan terasa terjal. Sebab setiap langkah mundur tanpa tanggung jawab bukan sekadar keputusan pribadi, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan. Dalam dunia kepemimpinan, keberanian bukan hanya tentang maju merebut amanah, tetapi juga tentang bertahan hingga amanah itu selesai ditunaikan dengan penuh tanggung jawab
