Mengenang 28 tahun PMII Lebak, menelusuri sejarah pendirian dan semangat perjuangan kader untuk bangsa.

 LEBAK — Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Lebak pada 18 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk menengok kembali sejarah lahirnya organisasi mahasiswa Islam tersebut di Kabupaten Lebak, Banten.

Dua puluh delapan tahun perjalanan PMII Lebak bukan sekadar penanda bertambahnya usia organisasi, melainkan juga pengingat atas semangat kaderisasi, pengabdian kepada masyarakat, serta komitmen mahasiswa dalam mengawal perubahan sosial dan pembangunan daerah.

Momentum bersejarah ini turut disoroti Hasan Komarudin, seorang penulis sekaligus kader PMII Lebak yang saat ini mengemban amanat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak. Dalam ucapan Harlah yang disampaikannya, Hasan mengajak seluruh anggota, kader, dan alumni PMII untuk kembali merefleksikan perjalanan organisasi sejak awal berdiri hingga kiprahnya saat ini.

“Perjalanan ini bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang komitmen kaderisasi, pembelaan kaum mustad'afin, dan keteguhan dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah,” ungkap Hasan dalam pesannya.

Sehabudin, M.Pd
Poster Ilistrasi Oleh : Hasan Komarudin

Berawal dari Lima Mahasiswa STAI Wasilatul Falah

Sejarah PMII Cabang Kabupaten Lebak tidak dapat dilepaskan dari prakarsa sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Wasilatul Falah, yang akrab dikenal dengan sebutan WASFAL. Kampus yang kala itu berlokasi di kawasan BTN Ona, Rangkasbitung, menjadi titik awal keterlibatan mahasiswa dalam proses pembentukan jaringan kader PMII di wilayah Lebak.

Cikal bakal tersebut bermula ketika PMII Cabang Serang menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pada 10–13 Oktober 1998 di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pandeglang.

Kegiatan kaderisasi itu diikuti sekitar 160 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Banten, di antaranya UNTIRTA, STAISMAN, UNMA, STMIK BAJA, dan PIKSI INPUT.

Karena salah satu persyaratan mengikuti PKD adalah berstatus sebagai mahasiswa aktif, STAI Wasilatul Falah mengirimkan lima mahasiswa berdasarkan rekomendasi Ketua Senat Mahasiswa saat itu. Kelima mahasiswa tersebut kemudian dikenal sebagai tokoh perintis berdirinya PMII di Kabupaten Lebak.

Mereka adalah Sahabat Sehabudin, yang tercatat sebagai pendiri sekaligus pemimpin pertama PMII Cabang Lebak; Sahabat Humaidi Hakim, pendiri sekaligus pemimpin kedua; Sahabat Rido Akhyarudin; Sahabati Lelih Umyati; serta Sahabati Siti Aisyah, yang turut menjadi bagian dari para pendiri PMII Lebak.

Keterlibatan kelima mahasiswa tersebut menjadi tonggak awal tumbuhnya gerakan kaderisasi PMII di lingkungan STAI Wasilatul Falah. Dari keikutsertaan dalam forum kaderisasi tingkat cabang itulah, embrio organisasi PMII di Lebak mulai terbentuk.

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan awal PMII Lebak terjadi pada 19 Oktober 1998. Berdasarkan catatan sejarah yang disampaikan, Komisariat PMII WASFAL resmi dikukuhkan melalui surat keputusan PMII Cabang Serang dengan kepengurusan yang berjumlah lima orang, yakni para mahasiswa STAI Wasilatul Falah yang mengikuti PKD tersebut.

Pengukuhan ini menandai terbentuknya wadah organisatoris bagi mahasiswa WASFAL untuk mengembangkan kaderisasi, memperluas gerakan kemahasiswaan, serta menanamkan nilai-nilai dasar PMII di lingkungan kampus.

Dalam rangkaian PKD tersebut, Sahabat Titut Sudiono yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum PMII Cabang Serang turut mengukuhkan sejumlah keputusan penting. Di antaranya adalah pengukuhan Cabang Persiapan PMII Pandeglang menjadi cabang penuh serta pembentukan dan pengesahan sejumlah struktur organisasi PMII di wilayah Banten.

Sementara itu, Sahabat Syaiful Bahri, Ketua Umum Pengurus Besar PMII saat itu, turut hadir dalam kegiatan kaderisasi tersebut. Forum itu juga menjadi bagian penting dalam perkembangan struktur organisasi PMII di Banten, termasuk penetapan Sahabat Komarudin Taher sebagai Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Banten.

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa PKD Oktober 1998 bukan hanya menjadi ruang pengaderan mahasiswa, tetapi juga momentum konsolidasi dan penguatan struktur organisasi PMII di tingkat regional.

Lahirnya PMII Cabang Kabupaten Lebak merupakan bagian dari proses panjang pengembangan organisasi di wilayah Banten. Kehadiran kader-kader dari STAI Wasilatul Falah menjadi salah satu unsur penting dalam proses tersebut.

Para perintis PMII Lebak memulai langkah melalui pembentukan komisariat, sebelum kemudian organisasi berkembang dan membangun basis kaderisasi di tingkat kabupaten.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan dalam catatan sejarah tersebut, tanggal 18 Oktober 1998 diperingati sebagai hari lahir PMII Cabang Kabupaten Lebak. Tanggal ini menjadi penanda historis bagi keluarga besar PMII Lebak dalam mengenang perjuangan para pendiri dan generasi awal organisasi.

Pada usia ke-28 tahun, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan organisasi tidak lahir begitu saja. Ada prakarsa, keberanian, dan komitmen mahasiswa yang bersedia mengambil peran dalam membangun ruang kaderisasi serta gerakan intelektual di daerah.

Karena itu, mengenang sejarah PMII Lebak bukan hanya upaya merawat ingatan kolektif, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap jasa para pendiri yang telah meletakkan fondasi bagi generasi kader berikutnya.

Dalam pesan peringatan Harlah ke-28 PMII Lebak, Hasan Komarudin menekankan pentingnya menjaga semangat pergerakan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.

Sebagai penulis dan kader PMII Lebak yang kini mengemban amanat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak, Hasan memandang nilai-nilai pergerakan sebagai landasan penting untuk membangun pengabdian yang lebih luas, terutama dalam bidang keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan.

Hasan menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh anggota, kader, dan alumni PMII yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan organisasi.

“Dua puluh delapan tahun sudah kita konsisten berkhidmah untuk agama, bangsa, dan mengawal kemajuan daerah tercinta ini,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh keluarga besar PMII Lebak untuk terus merawat tradisi intelektual, memperkuat kaderisasi, serta menjaga keberpihakan kepada kaum mustad'afin sebagai bagian dari tanggung jawab moral organisasi.

Menurut semangat yang terkandung dalam pesannya, usia organisasi seharusnya tidak hanya diukur dari panjangnya perjalanan, tetapi juga dari kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat.

Peringatan Harlah ke-28 PMII Cabang Kabupaten Lebak menjadi kesempatan bagi kader dan alumni untuk kembali menengok akar sejarah organisasi. Lima mahasiswa STAI Wasilatul Falah yang mengikuti PKD PMII Cabang Serang pada Oktober 1998 menjadi bagian penting dari kisah awal tersebut.

Dari langkah para perintis, PMII Lebak mewarisi tanggung jawab untuk melanjutkan kaderisasi, mengembangkan pemikiran kritis, memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah.

Sejarah yang diwariskan para pendiri hendaknya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia perlu dirawat melalui dokumentasi, diskusi, dan pengabdian nyata agar generasi kader berikutnya memahami akar perjuangan serta arah gerakan yang hendak dibangun.

Menutup pesannya, Hasan Komarudin mengajak keluarga besar PMII Lebak untuk terus tumbuh dan bergerak bersama.

“Selamat Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kabupaten Lebak yang ke-28 tahun. Mari kita terus tumbuh subur dalam pergerakan. Tangan terkepal dan maju ke muka! Salam pergerakan!”

Dua puluh delapan tahun PMII Lebak menjadi pengingat bahwa pergerakan selalu membutuhkan generasi yang bersedia merawat sejarah, menjaga nilai, dan melanjutkan pengabdian untuk agama, bangsa, serta Kabupaten Lebak.

Salam Pergerakan!

Mengenang 28 tahun PMII Lebak, menelusuri sejarah pendirian dan semangat perjuangan kader untuk bangsa.

Oleh: Admin

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id