Secangkir Kopi Pragmatis
Abang duduk di warung, mengaduk kopi tanpa gula,
berkata, “Dik, perjuangan jangan lekas berubah haluan.”
Akang menepuk pundak, lalu menyebut nama-nama lama,
seakan usia adalah ijazah untuk memiliki kebenaran.
Secangkir kopi pragmatis mengepul di meja kayu,
hitamnya pekat seperti sejarah yang enggan dicuci.
“Demi organisasi,” kata Abang, sambil menerima kursi baru—
bahkan bulan pun disuruh rapat agar malam tunduk pada senioritas.
Aku bertanya perlahan, “Bang, ini kaderisasi atau warisan?”
Ia tertawa: “Jangan kurang ajar, kami dahulu ditempa.”
Maka kutaruh gula tiga sendok ke dalam konstitusi perjuangan,
dan entah mengapa, ikan lele malam itu terpilih menjadi ketua cabang.
Kopi habis, gelas tinggal cincin di atas meja,
Akang berkata, “Dik, kelak kau akan paham cara bertahan.”
Aku mengangguk, sebab baru kusadari satu perkara:
yang paling senior ternyata bukan yang paling lama berjuang—
melainkan yang paling lama hidup dari perjuangan orang lain.
berkata, “Dik, perjuangan jangan lekas berubah haluan.”
Akang menepuk pundak, lalu menyebut nama-nama lama,
seakan usia adalah ijazah untuk memiliki kebenaran.
Secangkir kopi pragmatis mengepul di meja kayu,
hitamnya pekat seperti sejarah yang enggan dicuci.
“Demi organisasi,” kata Abang, sambil menerima kursi baru—
bahkan bulan pun disuruh rapat agar malam tunduk pada senioritas.
Aku bertanya perlahan, “Bang, ini kaderisasi atau warisan?”
Ia tertawa: “Jangan kurang ajar, kami dahulu ditempa.”
Maka kutaruh gula tiga sendok ke dalam konstitusi perjuangan,
dan entah mengapa, ikan lele malam itu terpilih menjadi ketua cabang.
Kopi habis, gelas tinggal cincin di atas meja,
Akang berkata, “Dik, kelak kau akan paham cara bertahan.”
Aku mengangguk, sebab baru kusadari satu perkara:
yang paling senior ternyata bukan yang paling lama berjuang—
melainkan yang paling lama hidup dari perjuangan orang lain.
