Sebuah Refleksi Menjadi Mahasiswa : Naik Gunung, Turun ke Jalan, atau Acuh Tak Acuh

Mahasiswa bukan sekadar seseorang yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Di pundaknya melekat tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial. Karena itu, mahasiswa sering disebut sebagai Agent of Change (agen perubahan), yaitu pelopor yang diharapkan mampu menghadirkan perubahan melalui gagasan, inovasi, penelitian, dan tindakan nyata. Mahasiswa juga memiliki fungsi sebagai Social Control (kontrol sosial), yakni mengawasi jalannya pemerintahan, mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, serta menjadi penyambung suara masyarakat. Selain itu, mahasiswa merupakan Moral Force (kekuatan moral), yaitu kelompok yang menjaga nilai kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan etika agar kehidupan berbangsa tidak kehilangan arah.
Di era digital, tanggung jawab tersebut semakin luas. Mahasiswa tidak cukup hanya aktif di ruang kelas atau jalanan, tetapi juga harus mampu mengawal ruang publik digital. Media sosial bukan sekadar tempat mencari perhatian atau membangun popularitas, melainkan ruang untuk menyebarkan pengetahuan, meluruskan informasi yang keliru, melawan hoaks, dan membangun budaya diskusi yang sehat. Mahasiswa harus menjadi teladan dalam menggunakan teknologi untuk mencerdaskan masyarakat, bukan memperkeruh keadaan.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa akan terbagi ke dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah mahasiswa yang naik gunung. Mereka mencintai alam dan menjadikan pendakian sebagai tempat menempa mental, membangun solidaritas, melatih kepemimpinan, serta belajar menghargai proses. Gunung mengajarkan bahwa tidak ada puncak yang dapat diraih tanpa perjuangan. Pendakian bukan sekadar hobi, melainkan proses membentuk karakter agar lebih tangguh menghadapi kehidupan.
Kelompok kedua adalah mahasiswa yang turun ke jalan. Mereka hadir dalam demonstrasi, advokasi masyarakat, diskusi publik, dan berbagai gerakan sosial. Mereka percaya bahwa ilmu tidak boleh berhenti di ruang kuliah, tetapi harus menjadi keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan membela kepentingan rakyat. Sejarah Indonesia membuktikan bahwa banyak perubahan besar lahir dari keberanian mahasiswa yang bersedia mengorbankan kenyamanan demi memperjuangkan keadilan.
Semangat tersebut pernah ditunjukkan oleh Soe Hok Gie melalui ungkapannya yang sangat terkenal, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan." Kutipan ini bukan sekadar ajakan untuk berani berbeda pendapat, tetapi juga pengingat bahwa seorang mahasiswa tidak boleh kehilangan integritas hanya demi kenyamanan atau kepentingan sesaat. Idealisme memang sering kali menuntut pengorbanan, namun sejarah selalu mencatat mereka yang berani mempertahankan kebenaran.
Kelompok ketiga adalah mahasiswa yang acuh tak acuh. Mereka datang ke kampus hanya untuk mengejar nilai dan ijazah. Mereka tidak tertarik membangun kapasitas diri, tidak peduli terhadap persoalan sosial, dan memilih menjadi penonton ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan. Padahal, sikap apatis justru membuat ilmu kehilangan makna.
Tan Malaka pernah mengingatkan bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Kalimat ini menjadi pengingat bahwa masa muda adalah waktu terbaik untuk berpikir besar, berani mengambil sikap, dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.
Sementara itu, Abdurrahman Wahid pernah menyampaikan, "Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu." Pesan ini menegaskan bahwa ilmu yang dimiliki mahasiswa harus menghadirkan manfaat bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang.
Sebagaimana diingatkan oleh Edmund Burke, "Satu-satunya hal yang diperlukan agar kejahatan menang adalah ketika orang-orang baik tidak melakukan apa pun." Pesan ini mengingatkan bahwa diam terhadap ketidakadilan bukanlah sikap netral, melainkan membiarkan keburukan terus berkembang.
Namun sesungguhnya, menjadi mahasiswa bukanlah soal memilih antara naik gunung atau turun ke jalan. Keduanya memiliki nilai yang sama apabila dijalankan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Mendaki gunung dapat membentuk karakter, sedangkan turun ke jalan dapat mengasah kepedulian sosial. Yang menjadi persoalan bukanlah pilihan jalannya, melainkan ketika seorang mahasiswa kehilangan kepedulian dan memilih bersikap acuh terhadap lingkungan sekitarnya.
Sebagaimana pesan yang sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, "Kebatilan yang terorganisasi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi." Terlepas dari perdebatan mengenai sumber aslinya, pesan tersebut mengandung pelajaran bahwa kebenaran memerlukan persatuan, strategi, dan kerja bersama. Mahasiswa yang memiliki ilmu, idealisme, dan kepedulian harus mampu bersatu agar perubahan yang dicita-citakan benar-benar terwujud.
Bangsa ini tidak membutuhkan mahasiswa yang hanya pandai berbicara, tetapi juga tidak membutuhkan mahasiswa yang hanya sibuk mengejar gelar. Bangsa ini membutuhkan mahasiswa yang memiliki ilmu, karakter, keberanian, dan integritas; mahasiswa yang mampu berdiri di tengah masyarakat sebagai pemberi solusi, bukan penambah masalah.
Karena sejatinya, gelar sarjana hanyalah sebuah pengakuan akademik. Yang akan dikenang oleh masyarakat bukanlah titel di belakang nama, melainkan seberapa besar manfaat yang telah diberikan kepada sesama. Sebab sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya menjadi penonton, melainkan oleh mereka yang berani berpikir, bergerak, dan bertanggung jawab.

#darirendi
Ig.@heirend_
Ketua Dewan Perwakilan Siswa SMAN 2 Rangkasbitung (2016-2017)
Presiden Mahasiswa STAI Wasilatul Falah (2020-2021)
Sekretaris PC PMII Kab. Lebak (2023-2024)
Direktur Gerakan Peduli Literasi Silih Elingan (2024-Sekarang)

Sebuah Refleksi Menjadi Mahasiswa : Naik Gunung, Turun ke Jalan, atau Acuh Tak Acuh

Oleh: Abdi Abid

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id