Santri Generasi Z: Ketika Identitas Keislaman Berhadapan dengan Dunia Digital

Resensi Buku Hasan Komarudin

Generasi Z tumbuh dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Internet bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Informasi, hiburan, pendidikan, hingga interaksi sosial berlangsung dalam satu ruang yang sama: dunia digital.

Lalu bagaimana dengan santri?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan penting dalam buku Santri Generasi Z: Mengenali Identitas dan Pemikiran Remaja Muslim di Era Digital karya Hasan Komarudin, yang diterbitkan Guepedia pada 2022.

Buku setebal 109 halaman ini membahas pertemuan antara dua dunia: nilai-nilai keislaman yang tumbuh dalam tradisi pesantren dan perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Santri hari ini tidak hidup hanya di lingkungan pesantren. Setelah membuka pintu kamar atau meninggalkan ruang belajar, mereka juga memasuki dunia media sosial. Di sana terdapat berbagai macam pemikiran, gaya hidup, budaya, informasi, dan nilai yang tidak selalu sejalan dengan pendidikan yang mereka terima.

Karena itu, tantangan santri bukan sekadar menjauhi teknologi.

Tantangan sebenarnya adalah bagaimana tetap memiliki identitas ketika berhadapan dengan dunia yang hampir tidak memiliki batas.

Buku ini menawarkan pandangan bahwa teknologi tidak harus diposisikan sebagai musuh. Teknologi dapat digunakan untuk belajar, berkarya, berdakwah, dan menyebarkan nilai positif.

Persoalannya terletak pada manusia yang menggunakannya.

Gawai yang sama dapat menjadi sarana belajar atau menjadi sumber masalah. Media sosial yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan atau menyebarkan kebencian.

Di sinilah karakter menjadi penting.

Santri membutuhkan kemampuan untuk membawa nilai-nilai yang dipelajari di pesantren ke ruang digital. Nilai agama tidak cukup hanya dipahami ketika berada di lingkungan pendidikan. Ia harus hadir ketika seseorang sendirian di depan layar.

Pada akhirnya, menjadi santri di era digital bukan berarti memilih antara tradisi dan modernitas. Santri dapat memegang nilai pesantren sekaligus memahami perkembangan zaman. Ia dapat membaca kitab sekaligus membaca perubahan sosial. Dan ia dapat menggunakan teknologi tanpa kehilangan arah.

Itulah persoalan identitas yang menjadi relevan untuk dibicarakan ketika generasi muda semakin dekat dengan dunia digital.

#Hasan_Komarudin

Santri Generasi Z: Ketika Identitas Keislaman Berhadapan dengan Dunia Digital

Oleh: Admin

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id