Mengapa Santri Membutuhkan Filter Internal di Media Sosial
Dulu, pengawasan terhadap anak relatif lebih mudah dilakukan.
Orang tua mengetahui lingkungan pergaulan anak. Guru mengetahui aktivitas murid di sekolah. Namun, perkembangan teknologi membuat ruang kehidupan generasi muda semakin luas.
Seseorang dapat berada di rumah, tetapi pikirannya menjelajah ke berbagai penjuru dunia melalui layar ponsel.
Dalam kondisi tersebut, pengawasan dari luar saja tidak cukup.
Gagasan mengenai pentingnya “filter internal” menjadi salah satu hal yang menarik dalam buku Santri Generasi Z: Mengenali Identitas dan Pemikiran Remaja Muslim di Era Digital karya Hasan Komarudin.
Filter internal dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menentukan sendiri apa yang layak dilihat, dipercaya, dibagikan, dan dilakukan.
Sebab internet tidak memiliki batas waktu.
Tidak mungkin orang tua mengawasi setiap unggahan yang dibaca anak.
Tidak mungkin guru mengetahui seluruh aktivitas digital peserta didiknya.
Pada akhirnya, seseorang akan berhadapan dengan layar seorang diri.
Di titik itulah karakter diuji.
Santri yang memiliki nilai moral kuat diharapkan mampu membawa nilai tersebut ketika memasuki ruang digital.
Bukan karena takut dimarahi.
Bukan karena takut diketahui guru.
Tetapi karena memiliki kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena media sosial menghadirkan berbagai macam informasi dalam waktu bersamaan.
Ada pengetahuan, tetapi ada pula hoaks.
Ada dakwah, tetapi ada pula provokasi.
Ada hiburan, tetapi ada pula konten yang dapat merusak.
Kemampuan memilih menjadi kebutuhan.
Karena itu, pendidikan generasi muda tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi.
Mereka juga harus dibekali kemampuan mengendalikan diri.
Dalam konteks ini, pendidikan karakter dan literasi digital memiliki hubungan yang sangat erat.
Literasi membantu seseorang membaca informasi.
Karakter membantu seseorang menentukan apa yang harus dilakukan terhadap informasi tersebut.
Keduanya dibutuhkan agar generasi muda tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana ketika berada di dalamnya.
#Hasan_Komarudin
