Mengapa Kader PMII Wajib Memahami NDP? Di Balik Tiga Relasi Ini Ada Arah Pergerakan

LEBAK, BANTEN — Ada satu kesalahan yang kerap terjadi dalam kaderisasi organisasi: sebuah materi dianggap selesai ketika peserta mampu menghafal definisinya. Padahal, nilai yang sebenarnya justru baru dimulai ketika forum berakhir.
Hal tersebut menjadi penting ketika membicarakan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Bagi kader PMII, NDP bukan sekadar materi yang muncul dalam forum kaderisasi. Ia merupakan salah satu kerangka nilai yang membantu kader memahami mengapa seorang manusia harus bergerak, bagaimana ia harus memperlakukan manusia lain, dan untuk apa ilmu serta kekuatan yang dimilikinya digunakan.
Jika organisasi adalah kendaraan, maka NDP dapat dianalogikan sebagai salah satu kompas moral dan filosofis yang membantu menentukan arah perjalanan.
Tanpa arah, kendaraan bisa bergerak cepat tetapi belum tentu sampai pada tujuan.
Begitu pula pergerakan.
NDP Sebenarnya Apa?
Nilai Dasar Pergerakan atau NDP merupakan rumusan nilai fundamental yang menjadi pijakan pemikiran dan tindakan kader PMII.
Pembahasannya berkaitan erat dengan pandangan PMII mengenai manusia, Tuhan, masyarakat, dan kehidupan.
Karena itu, NDP tidak tepat dipahami hanya sebagai daftar teori.
Ia lebih tepat dipahami sebagai cara pandang.
Cara pandang inilah yang kemudian diharapkan memengaruhi bagaimana kader melihat persoalan sosial, mengambil keputusan, membangun hubungan dengan sesama, dan menjalankan aktivitas pergerakan.
Dalam proses kaderisasi, NDP biasanya dibahas sebagai bagian dari materi yang mengajak kader melakukan refleksi filosofis.
Pertanyaannya bukan hanya “apa yang harus dilakukan?”
Lebih mendasar lagi: “mengapa kita melakukan sesuatu?”
Apakah NDP Berasal dari Satu Buku?
Pertanyaan mengenai sumber NDP sering muncul dalam forum kajian.
Jawabannya perlu dijelaskan dengan hati-hati.
NDP PMII tidak lahir sebagai isi sebuah buku tunggal yang ditulis satu orang kemudian dijadikan doktrin organisasi. Rumusan NDP berkembang melalui proses sejarah, pemikiran, pembahasan, dan forum resmi PMII.
Karena itu, ketika mencari referensi NDP, kader dapat menemukan materi dalam buku, modul kaderisasi, dan dokumen resmi PMII yang berbeda edisi dan penyusunannya.
Salah satu rujukan yang secara khusus beredar dalam tradisi kaderisasi adalah literatur atau modul berjudul “Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII.” Selain itu, pembahasan NDP juga perlu dilihat bersama dokumen resmi organisasi dan hasil forum permusyawaratan PMII yang menjadi dasar perjalanan ideologis organisasi.
Hal ini penting agar kader tidak menyebut satu buku tertentu sebagai “satu-satunya sumber NDP” tanpa memeriksa edisi dan dokumen yang digunakan oleh struktur PMII masing-masing.
Dengan kata lain, NDP merupakan produk pemikiran dan perjalanan organisasi yang kemudian dirumuskan sebagai landasan nilai pergerakan.
Tauhid: Titik Awal Cara Pandang
Salah satu pintu utama memahami NDP adalah tauhid.
Tauhid secara mendasar berkaitan dengan keyakinan terhadap keesaan Allah.
Namun dalam kerangka pergerakan, tauhid tidak berhenti sebagai konsep teologis.
Ia memiliki konsekuensi terhadap cara manusia memandang dirinya sendiri dan kehidupan.
Ketika seorang kader menyadari bahwa manusia bukan Tuhan dan memiliki keterbatasan, maka seharusnya muncul kesadaran untuk tidak memutlakkan dirinya sendiri.
Jabatan tidak boleh diperlakukan sebagai kekuasaan absolut.
Ilmu tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Organisasi tidak boleh dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Bahkan keberhasilan seorang kader pun seharusnya tidak membuatnya kehilangan kesadaran bahwa segala sesuatu memiliki batas.
Dari sinilah tauhid memiliki hubungan dengan etika pergerakan.
Manusia Tidak Hidup Sendiri
NDP juga membawa kader pada pertanyaan tentang manusia.
Siapa manusia?
Apa tanggung jawabnya?
Dan bagaimana manusia seharusnya hidup bersama manusia lainnya?
Dalam kehidupan sosial, manusia membutuhkan orang lain.
Karena itu, pergerakan tidak dapat dibangun hanya dengan semangat individual.
Ada kepentingan bersama yang harus diperhatikan.
Kader PMII tidak cukup hanya memperjuangkan dirinya sendiri.
Ia harus memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Kemiskinan, pendidikan, ketidakadilan, persoalan lingkungan, dan berbagai masalah sosial lainnya membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pandai berkomentar, tetapi mau memahami akar persoalannya.
Di sinilah nilai kemanusiaan menjadi penting.
Tiga Relasi yang Harus Dipahami Kader
Pembahasan NDP sering kali diarahkan pada pemahaman tentang relasi manusia.
Secara sederhana, kader dapat membacanya melalui tiga hubungan besar.
Pertama, hubungan manusia dengan Allah.
Ini berkaitan dengan dimensi ketuhanan dan spiritualitas. Manusia menyadari bahwa kehidupannya memiliki tanggung jawab moral kepada Tuhan.
Kedua, hubungan manusia dengan sesama manusia.
Ini berkaitan dengan kehidupan sosial, keadilan, persaudaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Ketiga, hubungan manusia dengan alam.
Manusia hidup di dalam lingkungan dan memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan kehidupan. Alam bukan sekadar benda yang dapat digunakan tanpa batas.
Ketiga relasi tersebut membuat NDP tidak hanya berbicara tentang ibadah dalam pengertian individual.
Ia juga berbicara tentang bagaimana nilai keagamaan diterjemahkan menjadi tanggung jawab sosial dan ekologis.
Mengapa Kader Harus Kritis?
Kader PMII sering didorong untuk menjadi manusia yang kritis.
Namun kritis bukan berarti selalu menolak.
Kritis berarti mampu melihat persoalan secara mendalam, mempertanyakan sesuatu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak menerima informasi begitu saja.
Di era digital, kemampuan ini semakin penting.
Satu informasi dapat menyebar ke ribuan orang dalam hitungan menit.
Jika kader tidak memiliki kemampuan verifikasi, ia dapat ikut menyebarkan informasi yang salah.
Di sinilah nilai dasar dapat diterapkan.
Sebelum membagikan sebuah informasi, seorang kader dapat bertanya:
Apakah ini benar?
Apa sumbernya?
Apakah informasi ini bermanfaat?
Apakah ada pihak yang dirugikan?
Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa nilai pergerakan dapat hadir dalam aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
NDP Bukan Alasan untuk Merasa Paling Benar
Ada ironi yang menarik.
Seseorang dapat mempelajari nilai-nilai pergerakan, tetapi justru menjadi semakin sulit menerima kritik.
Padahal, pengetahuan seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya juga memiliki keterbatasan.
Memahami NDP bukan tiket untuk merasa paling benar.
Justru semakin dalam seseorang memahami nilai, seharusnya semakin besar kemampuannya menghargai perbedaan.
Dalam organisasi, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar.
Ada kader yang memiliki pandangan berbeda.
Ada perbedaan strategi.
Ada perbedaan cara membaca masalah.
Organisasi yang sehat tidak harus menghapus perbedaan.
Organisasi justru harus mampu mengelola perbedaan menjadi energi intelektual.
Dari Kajian ke Tindakan
Inilah bagian paling penting dalam memahami NDP.
Kajian tidak boleh berhenti di forum.
Jika setelah kajian kader hanya mampu mengulang definisi, tetapi perilakunya tidak berubah, maka proses belajar belum selesai.
Misalnya, seorang kader memahami pentingnya hubungan manusia dengan sesama.
Maka ia perlu belajar menghargai orang lain.
Jika memahami tanggung jawab terhadap alam, ia dapat mulai memiliki kepedulian terhadap kebersihan dan lingkungan.
Jika memahami pentingnya ilmu, ia harus membangun kebiasaan membaca.
Jika memahami nilai ketuhanan, ia perlu menjadikan spiritualitas sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Dengan demikian, NDP bergerak dari gagasan menuju tindakan.
NDP dan Masa Depan PMII
PMII membutuhkan kader yang tidak hanya aktif, tetapi memiliki fondasi.
Organisasi membutuhkan orang-orang yang mampu bergerak cepat, tetapi tetap mengetahui alasan mengapa mereka bergerak.
Di tengah perubahan teknologi dan persoalan sosial yang semakin kompleks, nilai dasar menjadi semakin penting.
Kader harus mampu membaca zaman tanpa kehilangan pijakan.
Harus mampu menerima perkembangan tanpa menelan semuanya secara mentah.
Harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip.
Di sinilah NDP dapat berfungsi sebagai kerangka refleksi.
Bukan untuk membuat kader menjadi kaku, tetapi untuk membantu kader menentukan batas dan arah.
Pada Akhirnya, NDP Harus Hidup dalam Perilaku
NDP tidak akan menjadi berarti hanya karena tercetak dalam buku.
Ia juga tidak menjadi hidup hanya karena dibahas dalam forum kaderisasi.
NDP menjadi hidup ketika seorang kader mulai menjadikan nilai tersebut sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Ketika ia memiliki kekuasaan tetapi tidak menyalahgunakannya.
Ketika ia memiliki ilmu tetapi tidak merendahkan orang lain.
Ketika ia berbeda pendapat tetapi tetap menghormati sesama.
Ketika ia berbicara tentang masyarakat dan benar-benar bersedia turun melihat persoalan.
Ketika ia berbicara tentang lingkungan dan mulai menjaga alam.
Dan ketika ia bergerak dalam organisasi bukan semata-mata untuk mendapatkan posisi, tetapi karena menyadari adanya tanggung jawab yang lebih besar.
Karena itu, pertanyaan terpenting dalam kajian NDP bukanlah “berapa banyak halaman yang sudah kita baca?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Setelah memahami NDP, apakah cara kita berpikir dan bertindak benar-benar berubah?”
Sebab pergerakan tanpa nilai dapat kehilangan arah.
Dan nilai tanpa tindakan hanya akan menjadi teori.
NDP berada di antara keduanya: menjadi pijakan agar pikiran memiliki arah dan gerakan memiliki tujuan.

Mengapa Kader PMII Wajib Memahami NDP? Di Balik Tiga Relasi Ini Ada Arah Pergerakan

Oleh: Abdi Abid

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id