Ketika Mahasiswa Gemar “Numpang Nama”, Siapa yang Akan Membangun Indonesia Emas?

Ada satu kebiasaan kecil di kampus yang sering dianggap sepele: mencantumkan nama dalam tugas kelompok meskipun hampir tidak ikut bekerja.

Kita mungkin pernah melihatnya. Sebuah kelompok terdiri atas lima atau enam mahasiswa. Ketika tugas diberikan, hanya dua orang yang aktif berdiskusi. Satu orang mengerjakan makalah, satu lagi membuat presentasi, sementara anggota lainnya tiba-tiba menghilang. Mereka baru kembali ketika tugas hampir selesai.

Menariknya, ketika tugas dikumpulkan, semua nama tetap tercantum.

Semua mendapatkan nilai.

Semua terlihat sebagai bagian dari kelompok.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan mahasiswa malas. Dalam psikologi sosial, terdapat istilah social loafing, yaitu kecenderungan seseorang mengurangi usaha ketika bekerja dalam kelompok dibandingkan ketika bekerja seorang diri.

Ketika tanggung jawab dibagi kepada banyak orang, sebagian individu merasa kontribusinya tidak terlalu penting. Ada asumsi bahwa jika dirinya tidak bekerja, masih ada orang lain yang akan menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Persoalannya menjadi serius ketika perilaku tersebut dianggap normal.

Mahasiswa yang rajin akhirnya menjadi “mesin penyelamat” kelompok. Ia mengerjakan bagian orang lain karena tidak ingin tugas gagal. Sementara mahasiswa yang kurang bertanggung jawab belajar bahwa tidak melakukan apa-apa pun tetap membawa keuntungan.

Lama-kelamaan terbentuk sebuah budaya yang berbahaya: yang bekerja semakin terbebani, sedangkan yang tidak bekerja semakin nyaman.

Padahal kampus bukan hanya tempat memperoleh nilai.

Kampus adalah tempat seseorang belajar menjadi manusia dewasa.

Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa seharusnya belajar bahwa setiap hak selalu beriringan dengan kewajiban. Jika ingin mendapatkan nilai dari sebuah pekerjaan kelompok, maka harus ada kontribusi yang diberikan kepada kelompok tersebut.

Namun realitasnya tidak selalu demikian.

Ada mahasiswa yang hadir dalam rapat tetapi tidak memberikan gagasan. Ada yang membaca pesan grup tetapi tidak pernah menjawab. Ada yang berkata, “Bagian saya apa?” ketika pekerjaan sudah hampir selesai. Ada pula yang baru muncul ketika teman-temannya mengirimkan hasil akhir.

Lebih menyedihkan lagi, perilaku seperti ini sering ditutupi oleh alasan menjaga pertemanan.

“Sudahlah, yang penting tugas selesai.”

“Jangan ribut, nanti hubungan kita tidak baik.”

“Biarkan saja, daripada kelompok tidak selesai.”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun jika terus diulang, kita sedang mengajarkan sesuatu yang keliru kepada generasi muda: bahwa hubungan baik lebih penting daripada tanggung jawab.

Padahal hubungan yang sehat justru membutuhkan tanggung jawab.

Teman yang baik bukan teman yang membiarkan kita malas. Teman yang baik adalah orang yang berani mengingatkan ketika kita mulai mengabaikan kewajiban.

Persoalan ini juga berkaitan dengan wacana Indonesia Emas 2045.

Kita sering membicarakan bonus demografi sebagai peluang besar. Generasi muda dianggap sebagai modal utama untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.

Namun bonus demografi tidak otomatis menghasilkan Indonesia emas.

Jumlah anak muda yang besar tidak berarti apa-apa jika sebagian besar tidak memiliki budaya kerja, integritas, kemampuan kolaborasi, dan rasa tanggung jawab.

Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mendapatkan nilai.

Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menyelesaikan masalah.

Kita membutuhkan manusia yang ketika diberi amanah tidak mencari orang lain untuk mengerjakannya. Kita membutuhkan manusia yang ketika bekerja dalam tim tidak sibuk menghitung keuntungan pribadi. Kita membutuhkan manusia yang mampu berkata, “Ini bagian saya, dan saya akan menyelesaikannya.”

Sebab dunia setelah kampus jauh lebih keras daripada ruang kelas.

Di dunia profesional, orang yang tidak bekerja tidak selalu bisa bersembunyi di balik kerja keras orang lain. Dalam organisasi, perusahaan, lembaga pemerintahan, maupun komunitas, satu orang yang tidak bertanggung jawab dapat menghambat pekerjaan banyak orang.

Karena itu, tugas kelompok sebenarnya merupakan simulasi kecil kehidupan sosial.

Makalah bukan sekadar makalah.

Presentasi bukan sekadar presentasi.

Kerja kelompok adalah latihan tentang bagaimana seseorang menjalankan perannya dalam masyarakat.

Jika sejak mahasiswa kita terbiasa menghilang ketika ada pekerjaan, jangan terkejut jika kebiasaan tersebut terbawa ketika memasuki dunia kerja.

Indonesia Emas 2045 seharusnya tidak hanya menjadi slogan yang ditempel di spanduk kampus.

Ia harus dimulai dari perilaku sederhana.

Mengumpulkan tugas tepat waktu.

Mengerjakan bagian sendiri.

Menghargai kerja teman.

Tidak mengambil kredit atas pekerjaan orang lain.

Dan berani mengakui ketika belum memberikan kontribusi.

Mungkin semua itu terlihat terlalu kecil untuk dikaitkan dengan masa depan sebuah negara.

Namun bukankah karakter bangsa memang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil manusia di dalamnya?

Sebuah bangsa tidak tiba-tiba menjadi maju pada tahun 2045.

Ia dibangun sedikit demi sedikit oleh manusia yang hidup hari ini.

Dan mahasiswa adalah salah satu kelompok yang akan menentukan seperti apa wajah Indonesia di masa mendatang.

Karena itu, sebelum berbicara tentang Indonesia Emas, mungkin mahasiswa perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

Ketika berada dalam sebuah kelompok, apakah saya benar-benar bekerja bersama mereka?

Atau saya hanya ikut menikmati hasil kerja orang lain?

Pertanyaan tersebut sederhana.

Tetapi jawabannya bisa menjadi gambaran kecil tentang kualitas generasi yang sedang kita persiapkan menuju 2045.

Indonesia Emas tidak membutuhkan generasi yang pandai mencantumkan nama.

Indonesia membutuhkan generasi yang pantas menyandang nama sebagai manusia yang bertanggung jawab.

Ketika Mahasiswa Gemar “Numpang Nama”, Siapa yang Akan Membangun Indonesia Emas?

Oleh: Admin

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id