"Kenapa Logo PMII Bukan Hijau? Bukankah PMII lahir dari rahim Nahdlatul Ulama?




Bukankah PMII lahir dari rahim Nahdlatul Ulama? Lalu mengapa warna logonya bukan hijau?" Pertanyaan ini kerap muncul di ruang kaderisasi, forum diskusi, hingga media sosial. Tidak sedikit kader baru yang merasa penasaran, bahkan menganggap ada sesuatu yang janggal. Sebab, selama puluhan tahun Nahdlatul Ulama (NU) dikenal luas dengan identitas warna hijau, sementara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) justru tampil dengan dominasi biru dan kuning.
Di balik pertanyaan sederhana itu, tersimpan kisah tentang identitas, filosofi, dan kedewasaan sebuah organisasi. Warna pada logo PMII bukan sekadar pilihan desain, melainkan simbol yang menggambarkan karakter kader, arah perjuangan, serta hubungan historis yang tetap terjaga dengan NU.
PMII lahir pada 17 April 1960 sebagai organisasi mahasiswa Islam yang memiliki semangat membangun tradisi intelektual, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat. Sejak awal berdirinya, PMII tidak dapat dipisahkan dari sejarah Nahdlatul Ulama. Banyak tokoh pendirinya berasal dari lingkungan NU, sehingga PMII sering disebut sebagai organisasi yang lahir dari rahim NU.
Namun, lahir dari rahim yang sama tidak selalu berarti harus memiliki identitas visual yang sama. Justru di sinilah letak kedewasaan sebuah organisasi. PMII tumbuh dengan jati dirinya sendiri sebagai organisasi mahasiswa, tetapi tetap membawa nilai-nilai yang diwariskan oleh tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Warna biru pada logo PMII sering dimaknai sebagai simbol keluasan ilmu, kedalaman berpikir, keteguhan sikap, dan cakrawala yang luas. Biru menggambarkan langit dan lautan, dua ruang tanpa batas yang mengajarkan bahwa seorang kader harus terus belajar, berpikir kritis, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Seorang kader PMII tidak boleh berhenti pada satu sudut pandang, melainkan harus mampu membaca realitas dengan nalar yang jernih.
Sementara itu, warna kuning melambangkan semangat, harapan, optimisme, serta cita-cita besar. Kuning adalah warna yang identik dengan cahaya. Seperti matahari yang menyinari bumi, kader PMII diharapkan mampu menghadirkan manfaat di tengah masyarakat melalui gagasan, tindakan, dan pengabdian.
Menariknya, jika dilihat dari perspektif teori warna, perpaduan biru dan kuning akan menghasilkan hijau. Bagi banyak kader PMII, filosofi ini sering dimaknai sebagai simbol bahwa seluruh proses intelektual dan perjuangan yang dijalankan PMII pada akhirnya tetap berakar pada nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Hijau menjadi simbol keterhubungan sejarah, bukan sekadar hasil perpaduan warna.
Tentu saja, penafsiran ini berkembang sebagai pemaknaan filosofis di kalangan kader. Yang terpenting adalah memahami bahwa hubungan PMII dan NU bukan hanya tercermin melalui warna, tetapi juga melalui nilai, tradisi keilmuan, akhlak, serta semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.
Di era digital seperti sekarang, simbol organisasi sering kali hanya dipahami sebatas logo yang terpampang di media sosial atau jas almamater. Padahal, setiap unsur dalam sebuah lambang biasanya lahir melalui proses pemikiran yang panjang. Ketika kader memahami makna di balik simbol tersebut, rasa memiliki terhadap organisasi akan tumbuh lebih kuat.
Karena itulah, pertanyaan mengenai warna logo PMII sesungguhnya bukan sekadar membahas biru, kuning, atau hijau. Pertanyaan itu mengajak kader untuk menelusuri sejarah organisasi, mengenal para pendiri, memahami nilai perjuangan, dan menyadari bahwa identitas tidak hanya dibentuk oleh warna, tetapi juga oleh gagasan dan tindakan.
PMII selama lebih dari enam dekade telah melahirkan banyak tokoh nasional di berbagai bidang, mulai dari akademisi, birokrat, aktivis, ulama, hingga pemimpin daerah. Hal tersebut menunjukkan bahwa semangat yang dibangun organisasi ini tidak berhenti pada simbol, tetapi diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di sisi lain, hubungan historis dengan NU tetap menjadi bagian penting dari perjalanan PMII. Nilai-nilai Islam moderat, tradisi intelektual, penghormatan terhadap ulama, serta semangat menjaga persatuan bangsa merupakan fondasi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Akhirnya, warna biru dan kuning pada logo PMII mengajarkan satu pesan penting: menjadi kader berarti memiliki keluasan ilmu dan optimisme dalam berjuang. Ketika kedua nilai itu berpadu, lahirlah semangat hijau—sebuah simbol yang mengingatkan bahwa PMII tumbuh sebagai organisasi mahasiswa yang mandiri, namun tidak pernah melupakan akar sejarah yang melahirkannya.
Maka, jika suatu hari ada yang kembali bertanya mengapa logo PMII tidak berwarna hijau, jawabannya bukan sekadar persoalan desain. Jawabannya adalah tentang sejarah, filosofi, dan identitas. Sebab, warna boleh berbeda, tetapi nilai perjuangan yang diwariskan tetap menjadi benang merah yang menghubungkan PMII dengan Nahdlatul Ulama hingga hari ini.

"Kenapa Logo PMII Bukan Hijau? Bukankah PMII lahir dari rahim Nahdlatul Ulama?

Oleh: Abdi Abid

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id