Generasi (C)emas 2045: Ketika Mahasiswa Terlalu Takut Gagal untuk Mulai Bertanggung Jawab

Kita sering membicarakan Generasi Emas 2045. Namun di tengah optimisme tersebut, ada satu kelompok yang jarang dibicarakan: generasi yang cemas.

Mahasiswa hari ini hidup dalam tekanan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka dituntut berprestasi.

Dituntut memiliki pengalaman organisasi.

Dituntut aktif mengikuti seminar.

Dituntut memiliki kemampuan digital.

Dituntut memiliki portofolio.

Dituntut cepat lulus.

Dituntut segera bekerja.

Pada saat yang sama, mereka hidup dalam era media sosial yang terus memperlihatkan pencapaian orang lain.

Teman lulus lebih cepat.

Teman mendapatkan beasiswa.

Teman bekerja di perusahaan besar.

Teman memiliki bisnis.

Teman mengikuti pertukaran mahasiswa.

Tanpa disadari, kehidupan mahasiswa menjadi arena perbandingan yang tidak pernah selesai.

Dalam kondisi tersebut, sebagian mahasiswa mungkin memilih menghindari tanggung jawab bukan semata-mata karena malas, tetapi karena takut gagal.

Namun rasa takut tersebut dapat berkembang menjadi perilaku yang merugikan.

Ketika bekerja dalam kelompok, seseorang mungkin sengaja mengambil bagian kecil agar risiko kesalahan juga kecil.

Ia memilih tidak terlalu terlihat.

Jika berhasil, ia ikut mendapatkan hasil.

Jika gagal, ia dapat mengatakan bahwa pekerjaan tersebut adalah tanggung jawab kelompok.

Fenomena semacam ini dapat bersinggungan dengan social loafing.

Mengurangi usaha dalam kelompok membuat seseorang merasa lebih aman karena tanggung jawab individual menjadi kabur.

Masalahnya, rasa aman tersebut hanya sementara.

Sebab kehidupan dewasa membutuhkan kemampuan mengambil risiko dan bertanggung jawab atas keputusan.

Tidak ada manusia yang selalu berhasil.

Tidak ada mahasiswa yang selalu menghasilkan pekerjaan sempurna.

Tidak ada profesional yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Yang membedakan seseorang bukan apakah ia pernah gagal, tetapi bagaimana ia menghadapi kegagalan tersebut.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak menciptakan manusia yang takut salah.

Pendidikan seharusnya menciptakan manusia yang mampu belajar dari kesalahan.

Mahasiswa perlu memahami bahwa mengambil tanggung jawab bukan berarti menjamin keberhasilan.

Mengambil tanggung jawab berarti bersedia melakukan bagian yang menjadi kewajiban.

Jika salah, diperbaiki.

Jika gagal, dievaluasi.

Jika kurang mampu, belajar.

Jika membutuhkan bantuan, meminta bantuan.

Itulah proses menjadi dewasa.

Sayangnya, budaya akademik kadang terlalu berorientasi pada hasil.

Nilai menjadi tujuan.

Kesalahan menjadi sesuatu yang harus disembunyikan.

Akibatnya, mahasiswa bisa lebih sibuk menjaga citra daripada membangun kemampuan.

Dalam konteks Indonesia Emas, persoalan ini perlu diperhatikan.

Generasi masa depan tidak boleh hanya menjadi generasi yang pandai menghindari kesalahan.

Mereka harus menjadi generasi yang berani mengambil tanggung jawab.

Bangsa yang ingin maju membutuhkan manusia yang berani mencoba.

Pengusaha harus berani memulai.

Peneliti harus berani menguji.

Pendidik harus berani berinovasi.

Pemimpin harus berani mengambil keputusan.

Dan mahasiswa harus berani belajar menjadi bagian dari proses tersebut.

Karena itu, membicarakan social loafing tidak harus selalu berakhir dengan menyalahkan mahasiswa malas.

Kita juga perlu melihat tekanan yang membuat sebagian mahasiswa memilih menghindar.

Namun memahami alasan bukan berarti membenarkan perilaku.

Kecemasan harus dipahami, tetapi tanggung jawab tetap harus dijalankan.

Mahasiswa boleh takut.

Mahasiswa boleh ragu.

Mahasiswa boleh belum tahu.

Tetapi jangan menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk membiarkan orang lain bekerja sendirian.

Generasi Emas bukan generasi yang tidak pernah gagal. Generasi Emas adalah generasi yang berani belajar, bekerja, berkolaborasi, dan bertanggung jawab meskipun mengetahui bahwa dirinya bisa saja gagal.

Mungkin istilah yang tepat bukan hanya Indonesia Emas.

Kita juga perlu memastikan bahwa generasi yang menuju 2045 tidak berubah menjadi generasi yang takut mengambil peran.

Sebab masa depan tidak membutuhkan manusia sempurna.

Masa depan membutuhkan manusia yang bersedia bertanggung jawab.

Generasi (C)emas 2045: Ketika Mahasiswa Terlalu Takut Gagal untuk Mulai Bertanggung Jawab

Oleh: Admin

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id