Di Balik Maulid Nabi di At-Tarbiyah Rangkasbitung, Ada Pesan yang Lebih Dalam untuk Anak Muda



RANGKASBITUNG — Lantunan selawat mungkin hanya terdengar beberapa jam. Namun, pesan tentang kasih sayang dan kepedulian bisa tinggal jauh lebih lama di hati orang-orang yang hadir.
Semangat itulah yang mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan santunan anak yatim di Pondok Pesantren At-Tarbiyah Rangkasbitung, Jumat, 28 Agustus 2026 Masehi, bertepatan dengan 15 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menebar Kasih kepada Anak Yatim”, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat PMII STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung Masa Khidmat 2025–2026.
Sekilas, kegiatan Maulid Nabi merupakan agenda keagamaan yang lazim digelar masyarakat. Tetapi ketika peringatan tersebut dipadukan dengan santunan anak yatim, muncul pesan yang lebih kuat: kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya melahirkan kepedulian kepada sesama.
Bukan Sekadar Memperingati, tetapi Menghidupkan Keteladanan
Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengenang sosok Rasulullah Muhammad SAW, termasuk akhlak dan keteladanan beliau dalam menjalani kehidupan.
Namun, tantangan generasi sekarang bukan sekadar mengetahui kisah Rasulullah.
Tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kejujuran, kasih sayang, kepedulian, kesabaran, serta perhatian kepada kelompok yang membutuhkan merupakan nilai yang relevan kapan pun dan di mana pun.
Karena itu, tema yang diangkat dalam kegiatan ini memiliki makna yang erat dengan kehidupan sosial generasi muda.
“Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menebar Kasih kepada Anak Yatim” bukan hanya sebuah tema kegiatan. Ia dapat menjadi ajakan agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada seremoni, melainkan diteruskan dalam bentuk tindakan.
Santunan anak yatim menjadi salah satu bentuk sederhana dari pesan tersebut.
Ketika Anak Yatim Menjadi Pusat Perhatian
Di tengah kegiatan keagamaan, anak-anak yatim mendapatkan perhatian khusus.
Mereka menjadi bagian penting dari momentum Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat PMII STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung.
Kehadiran santunan memberikan pesan bahwa kegiatan keagamaan juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial.
Bantuan yang diberikan mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan. Tetapi perhatian yang diberikan memiliki arti tersendiri.
Sebab, kepedulian tidak selalu diukur dari besarnya sesuatu yang diberikan.
Terkadang, kepedulian justru terlihat dari kesediaan seseorang untuk hadir.
Hadir untuk berbagi.
Hadir untuk mendoakan.
Hadir untuk memberikan semangat.
Dan hadir untuk menunjukkan bahwa anak-anak yatim tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.
PMII Wasfal dan Wajah Pengabdian Generasi Muda
Bagi Pengurus Komisariat PMII STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung Masa Khidmat 2025–2026, kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk menghidupkan semangat pengabdian.
Organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi tempat bertukar gagasan atau menjalankan program internal. Lebih jauh, organisasi dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar memahami persoalan masyarakat.
Kegiatan santunan anak yatim memperlihatkan bahwa nilai intelektual dan nilai kemanusiaan dapat berjalan beriringan.
Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, tetapi pada saat yang sama harus memiliki kepekaan sosial.
Sebab, kecerdasan tanpa kepedulian dapat kehilangan arah.
Sebaliknya, kepedulian yang disertai pengetahuan dapat melahirkan gerakan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Dalam konteks itulah kegiatan Maulid Nabi menjadi ruang pembelajaran bagi kader dan pengurus PMII.
Mereka belajar bahwa mengabdi kepada masyarakat bukan hanya melalui wacana, tetapi juga melalui langkah sederhana yang memberikan manfaat.
Pesan Maulid yang Relevan dengan Zaman
Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang serba cepat. Media sosial, teknologi, dan berbagai perkembangan informasi membuat manusia dapat berkomunikasi tanpa batas.
Namun, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin peduli.
Di sinilah nilai keteladanan Rasulullah SAW tetap relevan.
Kasih sayang tidak boleh hanya menjadi kalimat yang dibagikan di media sosial. Kepedulian harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Santunan anak yatim menjadi contoh bahwa nilai agama dapat hadir secara langsung di tengah masyarakat.
Apa yang dilakukan oleh Pengurus Komisariat PMII STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung juga menjadi pesan kepada generasi muda bahwa menjadi anak muda bukan hanya soal mengejar keberhasilan pribadi.
Ada tanggung jawab sosial yang juga perlu diperhatikan.
Ada masyarakat yang membutuhkan perhatian.
Ada anak-anak yang membutuhkan dukungan.
Dan ada lingkungan yang membutuhkan generasi muda untuk hadir membawa perubahan.
Dari Selawat Menuju Perbuatan
Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren At-Tarbiyah Rangkasbitung akhirnya membawa sebuah pesan sederhana.
Selawat adalah ungkapan cinta.
Tetapi keteladanan adalah pembuktian cinta itu dalam tindakan.
Ketika seorang anak muda memilih berbagi dengan anak yatim, ketika sebuah organisasi mahasiswa memilih mengadakan kegiatan sosial, dan ketika masyarakat berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan, maka nilai Maulid Nabi mulai menemukan bentuk yang lebih nyata.
Momentum 28 Agustus 2026 tersebut menjadi pengingat bahwa akhlak Rasulullah SAW bukan sekadar warisan sejarah.
Ia adalah nilai yang harus terus dihidupkan.
Dari lingkungan keluarga, kampus, organisasi, pesantren, hingga masyarakat luas.
Bagi PMII STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung, semangat itu dapat menjadi bagian dari perjalanan kaderisasi dan pengabdian.
Sementara bagi anak-anak yatim yang menerima perhatian, kegiatan tersebut menjadi sebuah pesan bahwa masih banyak hati yang peduli.
Pada akhirnya, Maulid Nabi tidak hanya berbicara tentang masa lalu.
Ia berbicara tentang bagaimana umat hari ini memilih bersikap.
Apakah keteladanan Rasulullah SAW hanya akan dikenang dalam sebuah acara?
Ataukah nilai kasih sayangnya akan benar-benar diwujudkan dalam kehidupan?
Jawabannya ada pada setiap tindakan.
Dan dari Pondok Pesantren At-Tarbiyah Rangkasbitung, pesan itu kembali digaungkan: meneladani Rasulullah SAW berarti belajar menebarkan kasih, memperkuat kepedulian, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Karena ketika kasih sayang diberikan kepada anak yatim, yang tumbuh bukan hanya kebahagiaan penerima.
Tetapi juga kemanusiaan di dalam diri mereka yang memilih untuk berbagi.

Di Balik Maulid Nabi di At-Tarbiyah Rangkasbitung, Ada Pesan yang Lebih Dalam untuk Anak Muda

Oleh: Abdi Abid

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id