Bukan Mahasiswanya yang Bodoh, tetapi Budaya “Numpang Nama” yang Harus Ditinggalkan
Kita sering terlalu cepat menyebut mahasiswa malas sebagai mahasiswa tidak berkualitas. Padahal persoalannya mungkin lebih kompleks.
Ada mahasiswa yang sebenarnya mampu, tetapi terbiasa bekerja hanya ketika terdesak. Ada mahasiswa yang memiliki ide bagus, tetapi tidak pernah menyampaikannya karena merasa anggota lain akan mengerjakan. Ada pula mahasiswa yang sejak awal kuliah terbiasa bergantung kepada teman.
Masalahnya bukan semata-mata kecerdasan.
Masalahnya adalah budaya.
Budaya “numpang nama” menjadi salah satu fenomena yang menarik untuk diperhatikan dalam kehidupan akademik.
Ketika tugas kelompok diberikan, nama semua anggota harus tercantum. Dalam praktiknya, kontribusi tidak selalu seimbang.
Ada yang bekerja sampai larut malam.
Ada yang hanya mengirim satu pesan.
Namun pada lembar tugas, nama mereka berdiri sejajar.
Jika kondisi itu hanya terjadi sekali, mungkin tidak perlu dibesar-besarkan.
Tetapi ketika menjadi pola, kita perlu bertanya apakah pendidikan tinggi benar-benar sedang membentuk rasa tanggung jawab.
Dalam psikologi sosial, fenomena pengurangan usaha individu ketika bekerja dalam kelompok dikenal sebagai social loafing.
Salah satu alasan munculnya perilaku tersebut adalah ketika kontribusi individu tidak terlihat jelas.
Jika semua orang dinilai sebagai kelompok, seseorang dapat merasa bahwa usahanya tidak terlalu menentukan.
Pikiran semacam itu sangat manusiawi.
Namun pendidikan seharusnya justru melatih manusia untuk melampaui kecenderungan tersebut.
Sebab kehidupan tidak selalu memberikan penghargaan berdasarkan siapa yang paling terlihat.
Ada pekerjaan yang harus dilakukan meskipun tidak ada yang memuji.
Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan meskipun tidak ada yang mengawasi.
Ada kewajiban yang harus dijalankan meskipun orang lain memilih menghindar.
Di situlah karakter dibentuk.
Mahasiswa yang selalu menunggu teman mengerjakan tugas mungkin mendapatkan nilai yang sama hari ini.
Tetapi dunia profesional memiliki konsekuensi yang berbeda.
Ketika seseorang bekerja di sebuah organisasi, kegagalannya dapat memengaruhi orang lain.
Ketika seorang guru tidak menyiapkan pembelajaran, muridnya terkena dampak.
Ketika seorang pegawai tidak menyelesaikan pekerjaan, rekan satu tim harus menanggung akibatnya.
Ketika seorang pemimpin tidak bertanggung jawab, masyarakat dapat menjadi korban.
Karena itu persoalan kecil di ruang kelas sebenarnya memiliki hubungan dengan persoalan besar dalam kehidupan sosial.
Kebiasaan adalah latihan.
Apa yang terus kita lakukan ketika menjadi mahasiswa dapat menjadi pola ketika menjadi profesional.
Maka budaya “numpang nama” tidak seharusnya dianggap lucu.
Ia perlu dikritik.
Namun kritik juga harus diarahkan kepada sistem.
Dosen perlu memiliki cara untuk melihat kontribusi individual.
Mahasiswa perlu diberi ruang untuk melakukan evaluasi teman.
Kelompok perlu membuat pembagian pekerjaan yang transparan.
Dan mahasiswa sendiri perlu belajar bahwa kontribusi bukan sekadar hadir dalam grup WhatsApp.
Kontribusi berarti memberikan sesuatu yang membuat pekerjaan bersama menjadi lebih baik.
Tidak harus selalu besar.
Mencari referensi adalah kontribusi.
Menganalisis data adalah kontribusi.
Membuat desain adalah kontribusi.
Menyunting tulisan adalah kontribusi.
Mengkoordinasikan anggota juga kontribusi.
Yang penting, seseorang benar-benar mengambil bagian.
Jika kita ingin Indonesia menjadi negara maju pada 2045, kita harus berhenti menganggap karakter sebagai urusan tambahan.
Kualitas sumber daya manusia bukan hanya tentang kemampuan akademik.
Ia juga tentang kemampuan dipercaya.
Orang yang pintar tetapi tidak bertanggung jawab dapat menjadi masalah.
Sebaliknya, orang yang memiliki kemampuan biasa tetapi dapat dipercaya sering kali menjadi aset besar bagi organisasi.
Indonesia membutuhkan generasi seperti itu.
Generasi yang tidak sibuk bertanya siapa yang akan mengerjakan pekerjaannya.
Generasi yang bertanya apa yang bisa ia kontribusikan.
Mungkin perubahan besar Indonesia memang tidak selalu dimulai dari kebijakan besar.
Bisa jadi ia dimulai dari sebuah tugas kelompok.
Dari seorang mahasiswa yang memilih mengerjakan bagiannya.
Dari seorang teman yang berani berkata kepada anggota kelompoknya, “Kita kerjakan bersama-sama.”
Dan dari sebuah budaya baru yang perlahan meninggalkan kebiasaan menumpang pada kerja keras orang lain.
Sebab Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang memiliki gelar. Tapi membutuhkan generasi yang memiliki tanggung jawab.
