Banyak Organisasi Gagal Bukan Karena Kekurangan Program, Tapi Karena Salah Mengelola SDM

LEBAK, BANTEN — Ada organisasi yang memiliki program kerja begitu banyak, agenda tersusun rapi, dan struktur kepengurusan terlihat lengkap. Namun beberapa bulan berjalan, aktivitas mulai menurun. Rapat semakin jarang. Komunikasi tidak lagi intens. Sebagian pengurus mulai menghilang dari forum.
Pada akhirnya muncul pertanyaan sederhana: sebenarnya apa yang membuat organisasi gagal?
Jawabannya tidak selalu karena kekurangan program.
Tidak selalu karena minimnya anggaran.
Bahkan tidak selalu karena tidak memiliki fasilitas.
Sering kali persoalan paling mendasar justru berada pada sumber daya manusia (SDM) yang menjalankan organisasi tersebut.
Hal inilah yang menjadi salah satu pokok penting dalam materi “Peran SDM dalam Keberhasilan Organisasi” yang disampaikan oleh Sahabat Dandi Rizki Akbari, S.S.E., Pengurus Cabang PMII Kabupaten Lebak.
Pembahasan tersebut menjadi relevan bagi organisasi mahasiswa, termasuk PMII, karena keberadaan organisasi pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh struktur dan program kerja, tetapi oleh kualitas manusia yang berada di dalamnya.
Program Bagus Tidak Akan Berjalan Tanpa Orang yang Tepat
Dalam organisasi, program kerja sering menjadi ukuran pertama yang terlihat.
Ada seminar, pelatihan, diskusi, bakti sosial, kaderisasi, kajian, hingga berbagai kegiatan lainnya.
Namun sebuah program yang bagus di atas kertas belum tentu bagus ketika dilaksanakan.
Mengapa?
Karena program membutuhkan manusia.
Ada yang bertugas merancang konsep. Ada yang mengurus administrasi. Ada yang mencari narasumber. Ada yang mengelola keuangan. Ada yang mengurus publikasi. Ada yang mengatur teknis kegiatan.
Jika setiap orang mampu menjalankan tugasnya dengan baik, program memiliki peluang besar untuk berhasil.
Sebaliknya, jika pembagian tugas tidak jelas, komunikasi buruk, dan pengurus tidak memiliki rasa tanggung jawab, program sebagus apa pun dapat berhenti di tengah jalan.
Dari sini terlihat bahwa SDM bukan sekadar pelengkap organisasi.
SDM adalah mesin yang membuat organisasi bergerak.
SDM Berkualitas Tidak Hanya Pintar
Salah satu hal yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa SDM berkualitas hanya berarti orang yang pintar secara akademik.
Padahal organisasi membutuhkan kemampuan yang jauh lebih luas.
Seorang kader mungkin memiliki kemampuan berbicara yang baik, tetapi belum tentu mampu bekerja dalam tim.
Ada pula kader yang sangat cerdas dalam berpikir, tetapi kurang disiplin menjalankan tanggung jawab.
Ada yang memiliki kemampuan memimpin, tetapi tidak mampu menerima kritik.
Ada juga yang tidak terlalu menonjol di depan forum, tetapi sangat konsisten menyelesaikan pekerjaan.
Artinya, kualitas SDM tidak dapat diukur hanya dari satu kemampuan.
Organisasi membutuhkan kompetensi, karakter, tanggung jawab, komunikasi, kreativitas, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama.
Semua unsur tersebut harus berkembang secara seimbang.
Pemimpin yang Hebat Tidak Bekerja Sendirian
Dalam sebuah organisasi, figur pemimpin memang memiliki pengaruh besar.
Namun seorang pemimpin yang baik tidak menjadikan dirinya sebagai pusat dari seluruh aktivitas organisasi.
Justru semakin baik seorang pemimpin, semakin besar kemampuannya membangun orang-orang di sekitarnya.
Pemimpin harus mampu mendelegasikan tugas.
Harus percaya kepada anggota.
Harus memberikan ruang bagi kader untuk mencoba.
Dan ketika terjadi kesalahan, pemimpin harus mampu menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan pembelajaran.
Sebab jika semua pekerjaan hanya dikerjakan oleh ketua, organisasi akan mengalami ketergantungan.
Sebaliknya, jika ketua mampu membentuk banyak orang yang memiliki kemampuan memimpin, organisasi akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.
Dalam konteks kaderisasi, hal tersebut sangat penting.
Tujuan organisasi bukan hanya menyelesaikan program hari ini.
Tetapi juga menyiapkan pemimpin untuk masa depan.
Komunikasi: Masalah Kecil yang Bisa Menjadi Besar
Banyak konflik organisasi bermula dari sesuatu yang sebenarnya sederhana: komunikasi.
Seseorang tidak menerima informasi.
Pengurus lain merasa tidak dilibatkan.
Keputusan tidak disampaikan secara terbuka.
Pesan di grup tidak mendapatkan respons.
Lama-kelamaan masalah kecil berubah menjadi persoalan besar.
Karena itu, komunikasi menjadi salah satu kemampuan yang harus dimiliki setiap SDM organisasi.
Komunikasi bukan hanya kemampuan berbicara.
Mendengar juga merupakan bagian dari komunikasi.
Seorang pengurus harus mampu mendengarkan anggota yang memiliki keluhan.
Ketua harus mau menerima kritik.
Anggota harus mampu menyampaikan pendapat dengan cara yang baik.
Jika komunikasi dibangun secara sehat, perbedaan tidak selalu berakhir menjadi konflik.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi bahan untuk menemukan solusi.
Organisasi Harus Menjadi Tempat Belajar
Salah satu kekuatan organisasi mahasiswa adalah kemampuannya menjadi ruang pendidikan di luar kelas.
Di organisasi, mahasiswa belajar hal-hal yang mungkin tidak selalu diperoleh dari bangku kuliah.
Mereka belajar mengelola forum.
Belajar membuat proposal.
Belajar berbicara di depan umum.
Belajar mengatur kegiatan.
Belajar bekerja dengan orang yang berbeda karakter.
Belajar menghadapi kritik.
Bahkan belajar bagaimana menyelesaikan konflik.
Semua pengalaman tersebut merupakan bagian dari pembentukan SDM.
Karena itu, organisasi tidak seharusnya hanya menuntut kader untuk bekerja.
Organisasi juga harus bertanya:
Apa yang sudah dipelajari kader dari proses tersebut?
Pertanyaan ini penting agar setiap kegiatan memiliki nilai pendidikan.
Jangan Takut Memberikan Kesempatan kepada Kader
Kader tidak akan tumbuh jika selalu berada di belakang.
Ada kalanya mereka harus diberikan kesempatan untuk berada di depan.
Kader yang baru belajar berbicara harus diberi ruang menjadi moderator.
Kader yang belum pernah mengelola kegiatan harus diberi kesempatan menjadi panitia.
Kader yang memiliki gagasan harus diberi ruang untuk mengembangkan ide.
Tentu saja dengan pendampingan.
Memberikan kesempatan bukan berarti membiarkan kader bekerja tanpa arahan.
Justru proses pendampingan akan membuat kader memahami bagaimana sebuah tanggung jawab dijalankan.
Dari pengalaman tersebut, rasa percaya diri akan tumbuh.
Dan ketika semakin banyak kader mendapatkan pengalaman, semakin besar pula cadangan SDM yang dimiliki organisasi.
Regenerasi Menentukan Umur Organisasi
Organisasi yang tidak melakukan regenerasi sebenarnya sedang menghitung mundur kehidupannya sendiri.
Sebab tidak mungkin organisasi bergantung kepada orang yang sama selamanya.
Pengurus akan menyelesaikan masa jabatan.
Mahasiswa akan lulus.
Kesibukan akan berubah.
Karena itu, transfer pengetahuan menjadi sangat penting.
Pengurus lama harus bersedia membagikan pengalaman kepada kader baru.
Bukan menyimpan pengetahuan sebagai bentuk kekuasaan.
Dokumen kegiatan harus dirapikan.
Pengalaman kepanitiaan harus dibagikan.
Kesalahan masa lalu harus dibicarakan agar tidak diulangi.
Dengan demikian, setiap generasi tidak harus memulai dari nol.
Organisasi akan terus berkembang karena setiap generasi mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya.
Era Digital Membutuhkan SDM Baru
Perkembangan teknologi juga mengubah kebutuhan organisasi terhadap SDM.
Hari ini kader tidak cukup hanya mampu membuat kegiatan secara konvensional.
Kemampuan mengelola media sosial, membuat desain, menulis, mengolah video, melakukan publikasi, dan memahami komunikasi digital semakin dibutuhkan.
Namun kemampuan digital juga harus disertai kemampuan berpikir kritis.
Kader perlu memahami bahwa media sosial bukan hanya tempat menunjukkan aktivitas organisasi.
Ia merupakan ruang publik.
Setiap unggahan dapat membentuk citra organisasi.
Karena itu, SDM yang mengelola media organisasi memiliki tanggung jawab besar.
Konten yang dibuat seharusnya mampu memberikan informasi, edukasi, dan menggambarkan nilai positif organisasi.
Evaluasi: Cara Organisasi Menemukan Kekurangannya
Tidak ada organisasi yang sempurna.
Karena itu, evaluasi bukan tanda kegagalan.
Justru organisasi yang tidak mau melakukan evaluasi akan sulit berkembang.
Setelah sebuah kegiatan selesai, pengurus dapat bertanya:
Apa yang berhasil?
Apa yang tidak berjalan?
Mengapa terjadi?
Siapa yang bertanggung jawab?
Apa yang harus diperbaiki?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Evaluasi seharusnya menjadi ruang belajar.
Jika sebuah program gagal karena komunikasi, maka komunikasi harus diperbaiki.
Jika masalah muncul karena pembagian tugas, sistem kerja perlu dibenahi.
Jika kader kurang memiliki kemampuan tertentu, organisasi perlu membuat pelatihan.
Dengan cara seperti itu, kesalahan tidak menjadi sia-sia.
Dandi Rizki Akbari: SDM adalah Kekuatan Utama Organisasi
Materi yang disampaikan Sahabat Dandi Rizki Akbari, S.S.E., Pengurus Cabang PMII Kabupaten Lebak, mengingatkan bahwa organisasi pada akhirnya kembali kepada kualitas manusia yang menggerakkannya.
Program hanyalah rancangan.
Struktur hanyalah kerangka.
Fasilitas hanyalah alat.
Tetapi manusia adalah pihak yang menentukan bagaimana semuanya digunakan.
Karena itu, membangun organisasi berarti membangun SDM.
Membangun SDM berarti memberikan kesempatan belajar.
Memberikan kesempatan memimpin.
Membangun budaya komunikasi.
Menghargai proses.
Melakukan evaluasi.
Dan yang paling penting, menyiapkan generasi berikutnya.
Organisasi yang Kuat Dimulai dari Manusia yang Mau Bertumbuh
Pada akhirnya, keberhasilan organisasi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya kegiatan yang terlaksana.
Organisasi yang benar-benar kuat adalah organisasi yang mampu membuat manusia di dalamnya berkembang.
Kader yang masuk sebagai anggota baru kemudian keluar dengan kemampuan yang lebih baik.
Kader yang awalnya takut berbicara kemudian mampu menyampaikan gagasan.
Kader yang sebelumnya tidak memahami organisasi kemudian mampu memimpin.
Kader yang awalnya hanya datang sebagai peserta kemudian suatu hari mampu menjadi penggerak.
Itulah keberhasilan yang sesungguhnya.
Sebab ketika sebuah program selesai, yang tersisa bukan hanya dokumentasi.
Yang paling berharga adalah manusia yang menjadi lebih matang karena pernah menjalani proses tersebut.
Maka pesan dari pembahasan SDM menjadi semakin jelas: jangan hanya sibuk membangun organisasi dari luar, tetapi bangun pula manusia yang berada di dalamnya.
Karena organisasi boleh berganti nama kepengurusan.
Program boleh berubah.
Struktur boleh berganti.
Tetapi jika kualitas SDM terus tumbuh, organisasi akan selalu memiliki alasan untuk tetap hidup.
Sebab organisasi yang hebat bukan organisasi yang paling banyak memiliki agenda, melainkan organisasi yang paling serius menyiapkan manusia untuk menghadapi masa depan.

Banyak Organisasi Gagal Bukan Karena Kekurangan Program, Tapi Karena Salah Mengelola SDM

Oleh: Abdi Abid

Baca selengkapnya di pmiiwasfalmedia.my.id